Unit 10: Reproduksi Vegetatif ini akan menjelaskan tentang mekanisme, vegetatif buatan, kelebihan, kekurangan, dan faktor keberhasilan reproduksi vegetatif.
Sumber: iStock
Definisi Reproduksi Vegetatif
Reproduksi vegetatif adalah perkembangbiakan tanpa peleburan gamet jantan dan betina. Individu baru tumbuh dari bagian tubuh tumbuhan (akar, batang, atau daun) karena adanya sel meristem. Sel meristem punya kemampuan membelah dan berdiferensiasi sehingga membentuk jaringan baru. Hasil reproduksi vegetatif biasanya berupa klon, yaitu keturunan yang identik sifatnya dengan induknya.
Reproduksi vegetatif pada angiospermae terjadi melalui :
Vegetatif alami => terjadi secara alami dari organ tumbuhan
Vegetatif buatan (artifisial) => terjadi dengan bantuan manusia melalui teknik tertentu
Mekanisme Reproduksi Vegetatif
Mekanisme reproduksi vegetatif terjadi secara alami melalui bagian tubuh tumbuhan tertentu, maupun secara buatan melalui campur tangan manusia.
Mekanisme Reproduksi Vegetatif secara Alami
Melalui akar umbi
akar membesar, menyimpan cadangan makanan, tidak memiliki buku dan ruas, tidak memiliki mata tunas
contoh: singkong
Sumber: Science Facts
Melalui tunas daun
tunas yang tumbuh pada bagian tepi atau permukaan daun
contoh: cocor bebek
Sumber: RRI
Melalui rhizoma/rimpang
batang bawah tanah mendatar, muncul tunas baru pada ruas, menyimpan cadangan makanan
contoh: lengkuas
Sumber: Tribatanews Polri
Melalui stolon/geragih
batang menjalar di atas permukaan tanah, dari nodusnya tumbuh tunas baru
contoh: rumput teki
Sumber: Pras Academy
Melalui umbi lapis
lapisan-lapisan daun tersusun rapat mengelilingi batang pendek, kuncup samping (siung) atau tunas di tengah bisa tumbuh
contoh: bawang
Sumber: Portal Indramayu
Melalui umbi batang
batang yang membengkak sebagai cadangan makanan, punya mata tunas, berbuku dan beruas
contoh: kentang
Sumber: Quirky Science
Melalui tunas batang
tunas yang muncul di pangkal batang induknya
contoh: bambu
Sumber: BisnisUKM
Mekanisme Reproduksi Vegetatif secara Buatan
Melalui stek (cutting)
potongan batang/daun (tidak terlalu tua atau keras) ditanam di media tumbuh hingga muncul akar, bisa dibantu hormon perangsang akar (auxin)
contoh: sirih gading
Sumber: LindungiHutan
Melalui cangkok (layering)
kulit batang tanaman berkayu dikupas, dibungkus media lembap hingga berakar, lalu dipotong, ditanam
contoh: jambu air
Sumber: LindungiHutan
Melalui runduk
batang yang lentur atau menjalar dibengkokkan ke tanah sampai keluar akar
contoh: stroberi
Sumber: Kompas.com
Melalui sambung/okulasi
menggabungkan dua tanaman (satu spesies/genus) dengan menyatukan batang bawah (akar) dengan batang atas (entres/tunas)
contoh: jeruk
Sumber: FaunadanFlora.com
Melalui kultur jaringan
potongan kecil jaringan tumbuhan (eksplan) ditanam di medium steril yang kaya nutrisi dan hormon
contoh: pisang
Sumber: Instagram (ptdafa)
Sumber: Ruang Belajar Channel
Kelebihan Reproduksi Vegetatif pada Angiospermae
Reproduksi vegetatif pada tumbuhan angiospermae memiliki beberapa kelebihan, yaitu :
Mempertahankan sifat unggul
Karena tanaman baru merupakan klon dari induknya, sifat-sifat unggul seperti rasa buah, ukuran, dan ketahanan terhadap penyakit dapat dipertahankan secara konsisten pada generasi berikutnya.
Perbanyakan cepat dan seragam
Proses ini tidak melalui perkecambahan biji sehingga tanaman lebih cepat tumbuh dan menghasilkan individu yang seragam secara genetik.
Alternatif untuk tanaman yang sulit berbiji
Tanaman yang tidak menghasilkan biji, bijinya steril atau sulit berkecambah tetap dapat diperbanyak melalui metode vegetatif buatan, misalnya dengan stek, cangkok, sambung, atau kultur jaringan.
Tidak tergantung musim/penyerbuk
Reproduksi dapat dilakukan kapan saja tanpa menunggu tanaman berbunga atau berbuah sehingga mempercepat siklus produksi dan meningkatkan ketersediaan tanaman.
Mendukung konservasi tumbuhan
Melalui teknik seperti kultur jaringan, vegetatif buatan dapat digunakan untuk memperbanyak tanaman langka atau endemik dalam jumlah banyak, sekaligus melestarikan plasma nutfah.
Kekurangan Reproduksi Generatif pada Angiospermae
Reproduksi vegetatif pada tumbuhan angiospermae memiliki beberapa kekurangan, yaitu :
Tidak ada keragaman genetik
Karena keturunannya klon dari induk, tanaman menjadi rentan terhadap penyakit atau perubahan lingkungan yang ekstrem sebab semua individu memiliki kelemahan yang sama.
Biaya dan tenaga lebih besar
Beberapa metode seperti cangkok, sambung dan kultur jaringan membutuhkan keterampilan, peralatan, dan perawatan intensif sehingga kurang efisien untuk skala kecil.
Umur tanaman lebih pendek
Tanaman hasil cangkok atau sambung sering tidak memiliki akar tunggang yang kuat sehingga daya tahannya lebih rendah dibandingkan tanaman dari biji.
Risiko kegagalan tinggi
Jika teknik tidak dilakukan dengan benar (misalnya kelembapan kurang, sambungan tidak cocok, atau media tidak steril) hasil perbanyakan bisa gagal total.
Keterbatasan pada jenis tanaman tertentu
Tidak semua tanaman bisa diperbanyak dengan metode vegetatif buatan, misalnya karena perbedaan fisiologi atau ketidakcocokan jaringan antarspesies.
Faktor Keberhasilan Reproduksi Vegetatif
Keberhasilan perbanyakan vegetatif buatan pada tumbuhan tidak hanya ditentukan oleh teknik yang digunakan, tetapi juga oleh kondisi fisiologis tanaman dan faktor lingkungan yang mendukung. Beberapa hal yang harus diperhatikan adalah :
Genotipe tanaman
Setiap varietas memiliki kemampuan berbeda dalam membentuk akar atau tunas sehingga pemilihan jenis sangat menentukan keberhasilan (misalnya, mudah berakar, tunas tumbuh kuat dan cepat, tidak cepat layu, tidak membawa patogen).
Umur dan kondisi induk
Bahan stek atau entres dari tanaman muda dan sehat lebih mudah tumbuh dibanding dari tanaman tua atau sakit.
Zat pengatur tumbuh (ZPT)
Pemberian hormon seperti IBA atau NAA dapat merangsang pembentukan akar dan mempercepat pertumbuhan tunas.
Media tanam
Substrat dengan aerasi baik, cukup lembap, dan kaya nutrisi (misalnya campuran pasir, perlit, atau gambut) meningkatkan peluang hidup tanaman baru.
Lingkungan tumbuh
Suhu, cahaya, dan kelembapan yang sesuai mencegah stres dan mendukung pembentukan akar serta tunas.
Kesehatan tanaman induk
Bahan propagasi harus bebas hama dan penyakit agar hasilnya kuat dan tidak mudah mati.
Perawatan pasca-propagasi
Tanaman baru perlu disiram cukup air, diberi naungan agar tidak kepanasan, dan dibiasakan dengan lingkungan luar supaya bisa tumbuh kuat.